Friday, 25 November 2011

*Dia... Entah siapa

8 bulan waktu yang cukup singkatl untuk menjalaninya. Waktu yang sangat berat untuk melewatinya tanpa air mata. Waktu yang keras yang memaksa Saya untuk dapat tampil bahagia dan tetap menebarkan senyum di wajah. Waktu yang membuat Saya belajar tentang “apa arti sebuah kehilangan”.

Saya hanya bisa tersenyum saat ini, memikirkan dan mengingat kembali masa-masa itu. Tak percaya rasanya Saya akhirnya bisa bangkit dan melewatinya. Ternyata Saya bisa, semua di luar dugaan Saya. Keadaan mendesak yang akhirnya memampukan Saya melewati semuanya. Keinginan Saya yang kuat untuk bangkit membuat alam semesta memberikan Saya banyak jalan untuk bisa tegar, tersenyum, bahagia, dan bersyukur. Sekarang Saya bisa tersenyum lebar dan mengatakan “Ternyata Saya bukan perempuan yang lemah.”



Anyway,
Masa-masa itu telah berlalu. Sekarang kehidupan baru mengisi setiap waktu dengan orang-orang baru yang menggoreskan banyak cerita baru. Saya pahami sekarang skenario Tuhan untuk sebuah kehidupan, “bersusah-susah dahulu dan bersenang-senang kemudian”, itulah esensi dari segala ujian-ujian yang Tuhan percayakan.
7 (tujuh) nama baru masuk di dalam kehidupan Saya. Mengenal orang baru, berteman dengan karakter baru, dan berusaha membuka hati untuk salah satu dari mereka yang baru. Salah satu yang saat ini belum bisa Saya putuskan, karena hati entah mengapa masih ingin menunggu. Menunggu sesuatu yang datang yang bernama “cinta.” Meski cinta itu belum datang Saya tetap bahagia karena mereka yang berusaha menyempurnakan kembali hari-hari Saya.


HP bergetar, satu nama yang Saya harapkan muncul di layar.
HP berdering, satu suara yang Saya inginkan terdengar di telinga.
Ajakan “jalan-jalan”, satu orang yang Saya impikan.
“Satu” entah siapa, sampai saat ini Saya tidak tahu jawabnya.


Yah…itulah cinta.
Dia gak akan pernah datang saat kita harapkan.
Dia akan datang di saat waktu memang menginginkannya.
Dia akan masuk di saat hati memang memilihnya.


Dia…
Yang akhirnya mampu membuat Saya lepas tertawa;
Yang akhirnya mampu membuat Saya jujur kepada diri Saya bahwa Saya “memang mencintainya”.


*Dia…entah siapa

Sunday, 20 November 2011

Menjelang Akhir Tahun 2011

Di tengah malam, tepatnya tanggal 20November 2011, dalam keadaan badan yang sangat lemah,. Saya duduk dan memandang langit malam.
Seketika air mata menetes tanpa disengaja. Air mata bahagia karena saya masih diberi kesempatan untuk berpetualang dalam hidup di dunia ini. Kata-kata yang keluar seketika “Apa yang kurang dalam hidup saya?”
Saya bisa selalu makan enak, saat di luar sana banyak orang yang mau makan saja harus berfikir “uang dari mana”..

Saya bisa kerja sesuka hati saya, saat di luar sana banyak orang yang harus bersusah payah mencari kerja..
Saya bisa menikmati nyamannya di rumah dan berkumpul bersama keluarga, saat di luar sana banyak orang yang memilih menghabiskan waktu di luar rumah karena tidak betah dirumahnya sendiri..
Saya bisa sekolah sampai kuliah, saat di luar sana banyak orang yang berlomba mencari beasiswa karena tak ada modal melanjutkan pendidikannya…

Saya,
Saya bisa ini dan saya bisa itu
Walau semua serba sederhana di mata mereka namun saya tetap bahagia dan menilai semuanya adalah “sempurna dan luar biasa”

Bukan hanya itu…
Tuhan membuat skenario hidup tanpa ada kata “vakum” dalam belajar. Belajar kesabaran, belajar keikhlasan, belajar untuk berjuang, belajar untuk jadi pemenang dalam kehidupan masing-masing kita.
Dari tulang ojek, supir, kuli bangunan, pemimpin perusahaan, anak mudah yang telah sukses dalam hidupnya, anak jalan, dan semua orang Tuhan pertemukan kepada Saya. Untuk belajar, untuk bersyukur, untuk memaknai setiap hal yang terjadi adalah memiliki arti.

1000 rupiah mungkin tak berarti untuk saya, tapi berarti untuk mereka diluar sana..
100 milyar mungkin saat berarti untuk saya, tapi mungkin tak berarti untuk mereka-mereka para pelaku korupsi.
Semua relatif, bukan hanya nilai uang tapi juga nilai-nilai kehidupan. Dia baik tapi tidak dimata mereka, dia pintar tapi diluar sana ada yang lebih pintar, dia merasa sempurna tapi dia tidak tahu ada yang jauh lebih sempurna dibanding dirinya. Semua tak ada sama, nilai batasan semua relatif. Kita memiliki definisi yang berbeda-beda namun ada satu hal yang membuat kita sama “kita sama-sama hidup di dunia dan nantinya akan mati tanpa ada satupun yang mengetahui.”

So,
Saya hanya ingin bercerita bahwa saya bahagia dengan apa yang ada. Saya bangga dengan segala lebih dan kurang yang saya punya. Saya hanya ingin mengajak kalian semua “untuk berlomba menjadi pribadi yang terbaik untuk didiri kita masing-masing dan biarlah orang merasakan kebaikan dari apa yang kita lakukan”.
Walau hanya tulisan, saya tetap memiliki keinginan untuk berarti walau hanya sedikit membuat kalian “tertawa atau merasa ingin terus berkarya di dunia”…


-Teruslah menjadi inspirasi, di dunia memutuhkan saya, kamu, dan semua-
Masih ada waktu untuk menutup tahun ini dengan hal-hal baik dan kenangan yang takkan terlupakan..

Sunday, 20 March 2011

Manusi Kuat Saat Terdesak

Saya jalan dua hari ini dengan hati yang sangat rapuh, tapi entah mengapa meski demikian “senyum” di wajah saya tak pernah pudar.
Saya berfikir dan terus menghibur diri sendiri, untuk bisa kembali bangkit dan bercermin dari masa lalu bahwa “masalah yang ada sekarang belum sebesar yang sebelumnya”.
Entah sepertinya dewi keikhlasan sedang berpihak terhadap saya. Tepatnya ada keinginan yang kuat dalam hati saya bahwa saya harus lebih baik dari sebelumnya. Dalam arti lebih baik dalam segala termasuk percintaan.

Sahabat-sahabat menguatkan saya dengan kata-kata mereka “diri lo terlalu berharga menangisi lelaki yang ga bisa menghargai lo”. So, saya yakin bahwa saya tidak akan pernah menyesal kehilangannya tapi dia yang akan menyesal kehilangan saya suatu saat nanti Allah akan tunjukan jalan-Nya.
Rasanya hati ini benar-benar sakit, gimana tidak sakit, baru setelah 2 tahun bisa kembali menyayangi seseorang dan sekalinya bisa “saya kembali disakiti”. Euhhh, rasanya tidak enak sekali. Tapi itulah kehebatan Tuhan, Dia membuat saya bisa dan kuat.
Saya bisa menahan tangis saya dengan kasih sayang para sahabat dan keluarga.
Saya bisa menahan rasa mual saya dengan banyolan dan kekonyolan orang-orang disekeliling saya.
Saya bisa tetap berdiri tegak karena akhirnya Tuhan memampukan saya untuk menjadi kuat.

Cinta…
Inilah indahnya cinta
Kita tidak pernah tahu “siapa yang nantinya kita cinta” tapi sekali terjadi bahagia atau duka akhirnya “itu urusan Sang Illahi”.

Tetap bersyukurlah..
Karena orang yang salah akan semakin mempersiapkan dirimu menjadi lebih baik untuk bertemu dengan orang yang tepat pilihan Tuhan..
Terima kasih Tuhan